Jumat, 04 Maret 2016

Bonus Demografi dan Kesiapan Menghadapi MEA

Bonus Demografi dan Kesiapan Menghadapi MEA



            Mungkin kita sudah sering mendengar tentang MEA atau AEC. MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau AEC (Asean Economic Community) merupakan integrasi ekonomi ASEAN dalam menghadapai perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN. MEA dirancang untuk mewujudkan Wawasan ASEAN 2020. Dalam menghadapi persaingan ini, Negara-negara ASEAN perlu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki daya saing tinggi.

Sejak diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) pada akhir 2015 lalu, Indonesia menjadi tempat yang mudah untuk dimasuki barang produksi dari negara-negara anggota ASEAN. Bukan hanya barang produksi yang bebas memasuki tanah Indonesia, tenaga kerja pun bebas masuk ke Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, mengingat pada rentang waktu 2010-2030 Indonesia diprediksi mengalami bonus demografi dimana usia produktif (usia 15 sampai 65 tahun) lebih banyak jumlahnya dibanding usia dibawah 15 tahun dan diatas 65 tahun.

            Dengan adanya bonus demografi, MEA akan bisa dikuasai oleh Indonesia dengan syarat sumber daya manusia (SDM) di Indonesia harus terampil, cerdas, kompetitif, dan kreatif. Jika bonus demografi di dukung dengan meningkatnya kualitas SDM, kemungkinan besar Indonesia akan mendapatkan keuntungan yang banyak dengan adanya MEA ini. Sebaliknya, jika Indonesia tidak mempersiapkan kedatangan MEA dengan baik, Indonesia hanya akan menjadi ladang bagi para pencari kerja yang datang dari luar negeri.

            Ada beberapa hal yang menjadi masalah saat ini. Salah satunya yaitu kurangnya lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan yang tersedia di Indonesia saat ini lebih sedikit dibanding kebutuhan akan lapangan kerja. Kalaupun pemerintah bisa menciptakan lapangan kerja untuk usia produktif, mampukah kita bersaing mengingat saat ini banyak tenaga kerja dari luar negeri yang masuk ke Indonesia?. Mungkin jalan lainnya adalah kita yang harus menciptakan lapangan pekerjaan. Jika usia produktif tak bisa berinovasi dan menciptakan lapangan pekerjaan, kemungkinan besar angka pengangguran akan meningkat drastis.

Di era MEA ini, ada beberapa profesi yang dibuka bebas untuk para tenaga kerja ahli yang datang dari luar negeri yaitu insinyur, arsitek, perawat, tenaga survey, tenaga pariwisata, praktisi medis, dokter gigi dan akuntan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kualitas tenaga ahli dari Indonesia tak bisa menempati jabatan pada profesi di atas karena tenaga kerja terlatih lebih banyak jumlahnya dibanding tenaga kerja terdidik. Selain itu, banyak tenaga kerja yang pergi ke luar negeri karena lapangan kerja didalam negeri yang sesuai dengan kemampuan mereka dianggap kurang memadai.

Banyak faktor yang menyebabkan tenaga kerja di Indonesia dianggap kurang berkualitas. Diantaranya yaitu:

1.    Pendidikan
Pendidikan merupakan hal terpenting dalam masalah ini. Tercetaknya tenaga kerja yang berkualitas, dimulai dari kualitas pendidikan yang ada. Kita bisa melihat saat ini, pembangunan pendidikan di Indonesia masih tidak merata. Kesenjangan pendidikan terjadi terutama di bagian Indonesia timur sehingga menyebabkan banyak usia produktif yang kurang berkualitas. Padahal, jika pemerintah membangun sekolah secara merata, akan banyak sekali anak-anak usia produktif yang berkualitas. Tenaga kerja terdidik dinilai lebih baik kualitasnya dibanding tenaga kerja terampil. Sebab, pola pikir tenaga terdidik lebih tertata dan wawasan yang dimiliki lebih luas. Tetapi, jika hanya mengandalkan pendidikan, tenaga kerja akan sulit untuk bersaing. Sebab, keterampilan juga dibutuhkan untuk bersaing dengan tenaga kerja dari Negara lain.

2.    Rendahnya tingkat penguasaan teknologi
Menurut data Depnakertrans pada tahun 2003, tenaga kerja Indonesia 78% hanya berpendidikan SD dan lulusan universitas hanya 3%. Hal ini menunjukkan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia. Rendahnya kualitas pendidikan berpengaruh pada sulitnya mendapat pekerjaan. Karena di zaman yang serba canggih ini, pekerja dituntut menguasai teknologi agar pekerjaan bisa terselesaikan dengan cepat, efektif, dan efisien.

3.    Terbatasnya sarana prasarana
Saat ini banyak sekali tenaga kerja di Indonesia yang hanya menguasai cara-cara konvensional. Di tengah berkembangnya teknologi di Indonesia, penggunaan alat-alat canggih sangat diperlukan. Misalnya dalam sektor pertanian, Indonesia masih menggarap lahan perkebunan atau persawahan dengan cara konvensional. Padahal di Negara-negara maju, sektor pertanian menjadi sangat maju karena besarnya pemanfaatan teknologi yang membantu mempercepat proses produksi pertanian. Selain itu juga, banyak sekali penelitian-penelitian yang dilakukan dalam rangka memperbaiki kualitas pangan di negaranya. Di Indonesia, pemerintah dianggap kurang memfasilitasi para peneliti handal. Padahal di Negara lain, para peneliti dibiayai oleh pemerintah untuk melakukan penelitiannya. Hasilnya, banyak hasil penelitian yang berkontribusi dalam sektor ekonomi Negara mereka.

4.    Kemampuan bekerja keras
Tenaga kerja yang memiliki sifat kerja keras masih dibilang sangat sedikit. Padahal dengan semangat kerja kerasnya, produk yang dihasilkan akan lebih baik. Namun, kerja keras juga harus diiringi dengan kesehatan tenaga kerja. Jika tenaga kerja tersebut sehat, tingkat kualitas produksi akan lebih baik. Hal ini harus diperhatikan pula oleh pemerintah dan pemilik lapangan pekerjaan. Kesehatan tenaga kerja harus dikontrol minimal satu tahun sekali. Jika kesehatan menurun, tenaga kerja tidak bisa bekerja dengan giat.

5.    Kondisi geografis
Iklim Indonesia yang tropis menyebabkan mudahnya tanaman untuk tumbuh. Banyak sekali usia produktif yang beranggapan bahwa hidup bisa berjalan terus asalkan ada makanan. Makanan bisa didapat di sekitar rumah. Singkong, jagung, ubi, sangat mudah ditanam di sekitar rumah. Hal ini menyebabkan orang Indonesia lebih memilih untuk bercocok tanam tanpa mengetahui ilmu tentang bercocok tanam. Pemerintah juga berperan dalam hal ini. Masyarakat Indonesia melakukan hal tersebut karena kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia untuk tenaga kerja ataupun pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih. Hal itu yang menyebabkan kurangnya kualitas tenaga kerja yang ada di Indonesia.

            Tetapi melihat kondisi saat ini, usia produktif kemungkinan besar akan menciptakan inovasi-inovasi baru. Diantaranya dengan adanya, perkembangan internet yang melesat memudahkan masyarakat Indonesia berhubungan satu sama lain terutama dalam bidang ekonomi. Sehingga banyak sekali wirausaha-wirausaha muda yang merintis usaha lewat internet dan banyak yang sudah berhasil di usia mudanya. Hal ini disebabkan oleh menjamurnya para pengusaha muda yang dijembatani oleh situs-situs jual beli di Indonesia. Keuntungan yang didapat akan lebih banyak mengingat tak adanya batasan ruang dan waktu. Semuanya terjadi secara cepat dan mudah.


            Untuk itu, pemerintah harusnya bisa menjadi pengembang kualitas sumber daya manusia dengan cara memperbaiki kualitas dasar manusia seperti pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan penguasaan teknologi. Selain pemerintah, masyarakat terutama penduduk usia produktif juga harus menjadi penggerak ekonomi diantaranya dengan cara membangun usaha kecil menengah. Dengan demikian, pertumbuhan sektor ekonomi mikro akan meningkat. Dampaknya, Indonesia akan memenangkan persaingan di era MEA ini.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel ini :)

      Hapus

Copyright © Colorful Life | Powered by Blogger | Designed by Dapinder