Mungkin
kita sudah sering mendengar tentang MEA atau AEC. MEA (Masyarakat Ekonomi
Asean) atau AEC (Asean Economic Community) merupakan integrasi ekonomi ASEAN
dalam menghadapai perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN. MEA dirancang
untuk mewujudkan Wawasan ASEAN 2020. Dalam menghadapi persaingan ini,
Negara-negara ASEAN perlu menyiapkan sumber daya manusia (SDM)
yang memiliki daya saing tinggi.
Sejak diberlakukannya MEA
(Masyarakat Ekonomi Asean) pada akhir 2015 lalu, Indonesia menjadi tempat yang
mudah untuk dimasuki barang produksi dari negara-negara
anggota ASEAN. Bukan hanya barang produksi yang bebas memasuki tanah
Indonesia, tenaga kerja pun bebas masuk ke Indonesia. Hal ini menjadi tantangan
tersendiri bagi Indonesia, mengingat pada rentang waktu 2010-2030 Indonesia
diprediksi mengalami bonus demografi dimana usia produktif (usia 15 sampai 65
tahun) lebih banyak jumlahnya dibanding usia dibawah 15 tahun dan diatas 65
tahun.
Dengan
adanya bonus demografi, MEA akan bisa dikuasai oleh Indonesia dengan syarat
sumber daya manusia (SDM) di Indonesia harus terampil, cerdas, kompetitif, dan
kreatif. Jika bonus demografi di dukung dengan meningkatnya kualitas SDM,
kemungkinan besar Indonesia akan mendapatkan keuntungan yang banyak dengan
adanya MEA ini. Sebaliknya, jika Indonesia tidak mempersiapkan kedatangan MEA
dengan baik, Indonesia hanya akan menjadi ladang bagi para pencari kerja yang
datang dari luar negeri.
Ada
beberapa hal yang menjadi masalah saat ini. Salah satunya yaitu kurangnya
lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan yang tersedia di Indonesia saat ini
lebih sedikit dibanding kebutuhan akan lapangan kerja. Kalaupun pemerintah bisa
menciptakan lapangan kerja untuk usia produktif, mampukah kita bersaing
mengingat saat ini banyak tenaga kerja dari luar negeri yang masuk ke
Indonesia?. Mungkin jalan lainnya adalah kita yang harus menciptakan lapangan
pekerjaan. Jika usia produktif tak bisa berinovasi dan menciptakan lapangan
pekerjaan, kemungkinan besar angka pengangguran akan meningkat drastis.
Di era MEA ini, ada beberapa
profesi yang dibuka bebas untuk para tenaga kerja ahli yang datang dari luar
negeri yaitu insinyur, arsitek, perawat, tenaga survey, tenaga pariwisata,
praktisi medis, dokter gigi dan akuntan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kualitas tenaga ahli dari
Indonesia tak bisa menempati jabatan pada profesi di atas karena tenaga kerja
terlatih lebih banyak jumlahnya dibanding tenaga kerja terdidik. Selain itu,
banyak tenaga kerja yang pergi ke luar negeri karena lapangan kerja didalam
negeri yang sesuai dengan kemampuan mereka dianggap kurang memadai.
Banyak faktor yang
menyebabkan tenaga kerja di Indonesia dianggap kurang berkualitas. Diantaranya
yaitu:
1.
Pendidikan
Pendidikan merupakan hal
terpenting dalam masalah ini. Tercetaknya tenaga kerja yang berkualitas,
dimulai dari kualitas pendidikan yang ada. Kita bisa melihat saat ini,
pembangunan pendidikan di Indonesia masih tidak merata. Kesenjangan pendidikan terjadi terutama di bagian Indonesia timur sehingga menyebabkan banyak usia
produktif yang kurang berkualitas. Padahal, jika pemerintah membangun sekolah
secara merata, akan banyak sekali anak-anak usia produktif yang berkualitas.
Tenaga kerja terdidik dinilai lebih baik kualitasnya dibanding tenaga kerja
terampil. Sebab, pola pikir tenaga terdidik lebih tertata dan wawasan yang
dimiliki lebih luas. Tetapi, jika hanya mengandalkan pendidikan, tenaga kerja
akan sulit untuk bersaing. Sebab, keterampilan juga dibutuhkan untuk bersaing
dengan tenaga kerja dari Negara lain.
2.
Rendahnya tingkat penguasaan teknologi
Menurut data Depnakertrans
pada tahun 2003, tenaga kerja Indonesia 78% hanya berpendidikan SD
dan lulusan universitas hanya 3%. Hal ini menunjukkan rendahnya tingkat
pendidikan di Indonesia. Rendahnya kualitas pendidikan berpengaruh pada sulitnya
mendapat pekerjaan. Karena di zaman yang serba canggih ini, pekerja dituntut
menguasai teknologi agar pekerjaan bisa terselesaikan dengan cepat, efektif,
dan efisien.
3.
Terbatasnya sarana prasarana
Saat ini banyak sekali
tenaga kerja di Indonesia yang hanya menguasai cara-cara konvensional. Di
tengah berkembangnya teknologi di Indonesia, penggunaan alat-alat canggih
sangat diperlukan. Misalnya dalam sektor pertanian, Indonesia masih menggarap
lahan perkebunan atau persawahan dengan cara konvensional. Padahal di
Negara-negara maju, sektor pertanian menjadi sangat maju karena besarnya
pemanfaatan teknologi yang membantu mempercepat proses produksi
pertanian. Selain itu
juga, banyak sekali penelitian-penelitian yang dilakukan dalam rangka
memperbaiki kualitas pangan di negaranya. Di Indonesia, pemerintah dianggap
kurang memfasilitasi para
peneliti handal. Padahal di Negara lain, para peneliti dibiayai oleh pemerintah
untuk melakukan penelitiannya. Hasilnya, banyak hasil penelitian yang
berkontribusi dalam sektor ekonomi Negara mereka.
4.
Kemampuan bekerja keras
Tenaga kerja yang
memiliki sifat kerja keras masih dibilang sangat sedikit. Padahal dengan
semangat kerja kerasnya, produk yang dihasilkan akan lebih baik. Namun, kerja
keras juga harus diiringi dengan kesehatan tenaga kerja. Jika tenaga kerja
tersebut sehat, tingkat kualitas produksi akan lebih baik. Hal ini harus
diperhatikan pula oleh pemerintah dan pemilik lapangan pekerjaan. Kesehatan
tenaga kerja harus dikontrol minimal satu tahun sekali. Jika kesehatan menurun,
tenaga kerja tidak bisa bekerja dengan giat.
5.
Kondisi geografis
Iklim Indonesia yang
tropis menyebabkan mudahnya tanaman untuk tumbuh. Banyak sekali usia produktif
yang beranggapan bahwa hidup bisa berjalan terus asalkan ada makanan. Makanan
bisa didapat di sekitar rumah. Singkong, jagung, ubi, sangat mudah ditanam di
sekitar rumah. Hal ini menyebabkan orang Indonesia lebih memilih untuk bercocok
tanam tanpa mengetahui ilmu tentang bercocok tanam. Pemerintah juga berperan
dalam hal ini. Masyarakat Indonesia melakukan hal tersebut karena kurangnya
lapangan pekerjaan yang tersedia untuk tenaga kerja ataupun pelatihan-pelatihan
yang diberikan kepada tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih. Hal itu
yang menyebabkan kurangnya kualitas tenaga kerja yang ada di Indonesia.
Tetapi
melihat kondisi saat ini, usia produktif kemungkinan besar akan
menciptakan inovasi-inovasi baru. Diantaranya dengan adanya, perkembangan internet yang
melesat memudahkan masyarakat Indonesia berhubungan satu sama lain terutama
dalam bidang ekonomi. Sehingga banyak sekali
wirausaha-wirausaha muda yang merintis usaha lewat internet dan banyak yang
sudah berhasil di usia mudanya. Hal ini disebabkan oleh menjamurnya para
pengusaha muda yang dijembatani oleh situs-situs jual beli di Indonesia.
Keuntungan yang didapat akan lebih banyak mengingat tak adanya batasan ruang
dan waktu. Semuanya terjadi secara cepat dan mudah.
Untuk
itu, pemerintah harusnya bisa
menjadi pengembang kualitas sumber daya manusia dengan cara memperbaiki
kualitas dasar manusia seperti pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan
penguasaan teknologi. Selain pemerintah, masyarakat terutama penduduk
usia produktif juga harus
menjadi penggerak ekonomi diantaranya dengan cara membangun
usaha kecil menengah. Dengan demikian, pertumbuhan sektor ekonomi mikro akan
meningkat. Dampaknya, Indonesia akan memenangkan persaingan di era MEA ini.


keren gan artikelnya :D
BalasHapusterimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel ini :)
Hapus